MOBIL LISTRIK NASIONAL

Sejak mobil ASIANUSA (Fin Komodo, Tawon, GEAdan Kancil) serta Kiat ESEMKA dberitakan di media massa, pembicaraan mengenai mobil nasional mengemuka kembali. Berita itu sedikitnya menjadi penawar harapan akan suatu karya bangsa yang bisa bermanfaat bagi bangsa dan patut dibanggakan. Kehebohan sebagai reaksi atas kenyataan ketidak-berdayaan kita menghadapi penguasaan asing terhadap industri dan pasar otomotif di ladang kita sendiri saat ini. Anggap saja kita sepakat bahwa yang disebut MOBNAS adalah kendaraan yang majikannya adalah pengusaha lokal yang berkuasa atas kepemilikan merk lokal sehingga berkuasa menentukan nasib dan keberadaannya di pasar.

Kita semua berharap MOBNAS hadir bermartabat menjadi wahana pengembangan kemampuan dan kapasitas industri baru, sehingga efektif jadi alat mencerdaskan dan menyejahterakan bangsa. MOBNAS harus bawa manfaat, tidak boleh sekedar lahir tetapi kemudian tidak berkembang sehingga menjadi beban bagi masyarakat. Ukurannya jelas, penjualannya berkembang karena kualitas barangnya tepat seperti yang diharapkan sehingga orang mau beli. Investasi yang akan dikeluarkan harus benar benar diamankan dengan argumentasi alasan dan perencanaan yang matang secara profesional. Sayangnya, cerita pendatang baru lokal terakhir ini tampaknya tidak terlihat adanya persiapan untuk bisa penetrasi pasar dan berada selamat di dalamnya. Atau mungkin peluncuran wacana ini terlalu gempita oleh berbagai opini yang tidak konfirm, padahal sebetulnya baru tahap prototype. Sehingga secara teknis dan business belum ada persiapan serius untuk siap produksi (kecuali Fin Komodo yang walaupun dengan kapasitas kecil tetapi sudah produksi dan sudah masuk ke Pasar yang dibidikny). Tanpa persiapan yang matang MOBNAS akan dibilang dolanan, obong obong, jatuh menjadi cemoohan orang. Momentum MOBNAS akan hilang.

Yang masih perlu terus diperdebatkan adalah wacana apa MOBNAS dan bagaimana sebaiknya MOBNAS ini dihadirkan. Apakah perlu MOBNAS masuk di mainstream pasar terbesar MPV dan SUV? Perlukah MOBNAS ditangani langsung oleh BUMN atau diserahkan saja kepada swasta? Bisa saja nanti akan ada banyak MOBNAS yang bisa mengisi pelangi berbagai kebutuhan yang ada. Tetap penting untuk dikawal agar investasi MOBNAS tepat guna agar bisa benar benar jadi kebutuhan sehingga mampu berkembang. Dalam hal ini publik berkepentingan agar investasi yang terjadi bukan akan menjadi suatu proyek lain yang teronggok. Hidup sukar mati tak mau, karena hanya sekadar memenuhi keharusan birokrasi tanpa passion dan kecintaan terhadap produk atau pekerjaan itu sendiri. Padahal kalau pemerintah mau ikut campur masuk industri ini, berarti uang itu uang rakyat, uang kita juga. Kata orang, memang paling enak usaha dengan memakai uang orang lain, bukan uang sendiri.

Salah satu yang terpenting dan kritikal dalam memasuki bisnis otomotif ini adalah definisi produk MOBNAS itu sendiri. Diberitakan baru baru ini wacana menteri pengawasan BUMN Dahlan Iskan untuk mengalokasikan anggaran Rp.5 Triliun untuk MOBNAS dengan kiat melompat ke depan, dengan wujud mobil listrik untuk menjawab sekaligus masalah alternatif energi selain BBM yang semakin langka, aspek lingkungan dan sebagainya.

Untuk jangka panjang memang diperkirakan mobil listrik akan menjadi kebutuhan yang lebih besar, tetapi kenapa tidak semua mobil sekarang dibuat mobil listrik saja? Betulkah dalam 5 tahun kedepan mobil listrik adalah benar benar mobil yang kita perlukan? Perlu dicermati apa sebenarnya kendalanya sehingga mobil listrik belum berjaya sampai sekarang. Debat klasik mengenai hal ini bergulir terus sampai sekarang.

Ada beberapa alasan yang biasa dipakai sebagai perbandingan mobil listrik terhadap mobil yang menggunakan BBM.

OPERASIONAL MOBIL LISTRIK.

Pertama, aspek operasional. Mobl listrik yang ideal, sebenarnya bila mobil itu sepenuhnya menggunakan energi listrik (Istilahnya mobil listrik plug-in). Mobil listrik plug-in ini punya dua kemungkinan sumber energi: pertama langsung dihubungkan dengan jaringan kabel, seperti trem jaman dulu. Pilihan ini membuat kendaraan listrik itu tidak bebas manuver. Cara lain, agar lebih bebas bergerak, mobil listrik membawa batere penyimpan energi sementara untuk menggerakan motor listrik yang memutar roda. Ternyata pilihan inipun masih memiliki banyak kendala. Terutama dari kelemahan teknologi baterenya yang masih belum bisa diatasi sampai saat ini. Harga awal mobil listrik masih tinggi. Biaya operasi tinggi karena harus sering ganti batere. Charging batere rata rata harus 8 jam, bisa dipercepat menjadi setengah jam dengan charger khusus, tetapi memperpendek umur batere. Akselerasi mobil listrik belum memuaskan dan jangkauan operasi masih terlalu pendek, rata rata 150 mil tanpa isi kembali. Kalau batere kehabisan listrik di jalan juga akan jadi masalah, diperlukan infrastruktur pelayanan agar bisa charging di jalan.

Karena kelemahan kelemahan di atas, maka diperkenalkanlah kombinasi sumber daya dengan tetap menggunakan bantuan mesin bensin atau diesel biasa yang digabungkan dengan sistem penggerak motor listrik, atau biasa disebut sistem Hybrid Elektrik. Ada yang dinamakan Hybrid elektrik seri, di mana mesin bensin atau mesin diesel tidak langsung menggerakkan roda. Contohnya Chevrolet Volt yang cukup populer di Amerika saat ini. Seperti di lokomotif kereta api diesel, mesin BBM memutar generator yang mengisi batere, dan listrik dari batere memutar motor listrik penggerak roda. Dengan demikian BBM masih diperlukan, tetapi mesin bensin atau mesin diesel bisa diatur bekerja di daerah putaran dengan efisiensi hemat bahan bakar tertinggi. Jadi bahan bakar lebih hemat dari mobil biasa. Tapi sistem ini perlu batere banyak dengan berat sekitar 180 kg dan makan ruangan. Sehingga masih mahal untuk saat ini. Selain itu ada hybrid elektrik paralel, dimana mesin BBM dan motor listrik bekerja bergantian. Contohnya Toyota Prius yang juga dipasarkan di Indonesia. Dengan sistem kontrol elektronik, mesin BBM bekerja bila dipelukan beban yang tinggi dan motor listrik bekerja ketika lonjakan beban relatif tidak besar. Ada yang mencoba Hybrid dengan menggunakan fuel cell turunan teknologi ruang angkasa sebagai generator hydrogen untuk menghasilkan listrik. Bila dibandingkan mobil dengan mesin BBM, tentu saja sistem hybrid seperti ini lebih rumit sehingga masih mahal. Cara Hybrid ini berkembang pesat sebagai pilihan lain karena kinerja batere belum memuaskan dan perkembangan perbaikan batere terasa sangat lambat.

PERBAIKAN BATERE

Kelemahan batere mobil lisrik dan sistem kontrolnya masih jadi biang keladi kalahnya mobil listrik dibanding mobil BBM. Sekarang orang lain sedang berpacu untuk meningkatkan jangkauan operasi mobil listrik 100% dari rata rata 150 mile ke 300 mile. Ultra kapasitor berkapasitas besar dikembangkan terus dalam sistem kontolnya agar tersedia daya besar sesaat untuk tarikan mobil listrik agar bisa melesat, berakselerasi baik dalam memenuhi kondisi operasi yang berubah tiba tiba. Waktu pengisian yang rata rata 8 jam dengan listrik rumah saat ini terlalu lama. Penelitian penelitian dilakukan dengan target mencapai kecepatan 40 sampai 100 kali lebih cepat dari sekarang. Salah satu cara dengan merendam bahan batere dalam suatu jenis larutan tertentu agar bisa mempercepat pengisian. Waktu hidup batere idealnya adalah lebih dari 8 tahun, agar batere tidak harus sering diganti sehingga merusak pemasaran mobil listrik seperti saat ini. Berbagai jenis batere digunakan, tetapi yang paling populer sementara ini adalah Lithium Ion seperti batere komputer laptop. National University of Singapore tahun lalu menemukan bahan yang biaya per kWh secara skala produksi bisa diharapkan seperempat dari biaya pembuatan batere Li-Ion saat ini dengan kinerja yang sama. Bahan ini masih dalam penelitian laboratotium, masih jauh ke komersialisasi. Kalau bahan ini nanti sudah bisa diproduksi secara massal, biaya mobil listrik akan lebih murah sehingga prospek mobil listrik akan lebih cemerlang.

ASPEK LINGKUNGAN.

Karena mobil listrik tidak menggunakan BBM maka dianggap lebih bersih lingkungan. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar karena sebagian polusi yang terjadi dari emisi yang terjadi di kendaraan berpindah ke polusi yang terjadi di pembangkit tenaga listrik yang banyak menggunakan minyak diesel atau batubara sebagai pembangkit listrik. Belum lagi perlu disiapkan fasilitas penanganan limbah padat batere bekas yang berpotensi mencemari tanah bila dibuang begitu saja. Penangann ini perlu biaya besar sehingga harus diperhitungkan dalam assessment investasi total sistem pengadaan energi untuk mobil listrik.

Bila penggunaan mobil BBM beralih ke mobil listrik, pembangkit listrik harus disiapkan dalam waktu singkat untuk memenuhi kebutuhan listrik. Perlu konsep menyeluruh agar secara total aplikasi mobil listrik ini lebih murah, efisien dan sederhana dibandingkan dengan pemakaian BBM saat ini. Investasi ini harus juga memperhitungkan fasilitas untuk melayani pengisian batere di jalan. Pada awal tahun 90an, untuk mengantisipasi perkembangan mobil listrik di Amerika yang sedang hangat saat itu, Singapura mempersiapkan infrastruktur pelayanan terhadap mobil listrik ini. Sehingga bila mobil listrik hadir, Singapura akan siap melayaninya. Pendekatan cermat yang jauh berbeda dengan cara persiapan kita pindah dari BBM ke gas.

WAKTU YANG TEPAT.

Perbedaan mobil biasa dengan mobil listrik sebenarnya hanya di pembangkit daya dan penerus dayanya saja (mesin dan power trainnya). Sehingga untuk MOBNAS mulai sebetulnya bisa saja dipersiapkan menggunakan BBM dulu dan sementara dipersiapkan ke listrik bila teknologi sistem listrik sudah lebih matang nanti . Sebaiknya secara paralel LEN atau LIPI melanjutkan studi kelistrikan untuk aplikasi mobil listrik agar betul betul terbukti secara komersial sistem penunjang kelistrikan mobil listrik ini bisa handal dan praktis digunakan. Bila tidak handal dan tidak murah MOBNAS listrik hanya lahir untuk menderita karena tidak akan laku dijual di pasar yang sensitif terhadap harga.